Revitalisasi TWI Mendesak: Saat Spiritualitas Memudar dan Ikon Wisata Dairi Terancam Mati Suri

Ibnnews.co.id, Dairi – Taman Wisata Iman (TWI) yang berlokasi di Bukit Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kini menunjukkan tanda-tanda “mati suri”. Padahal, taman religius seluas 130.000 meter persegi ini pernah menjadi destinasi unggulan nasional dalam wisata rohani lintas agama.
Dibangun pada masa kepemimpinan Bupati MP Tumanggor, TWI dahulu dipuji sebagai paket wisata rohani paling lengkap—memadukan konsep religius dari berbagai keyakinan dengan latar alam yang sejuk dan menenangkan. Bahkan, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno sempat menyebut bahwa pengalaman berkunjung ke TWI setara dengan wisata luar negeri.
Namun, kejayaan itu kini tinggal kenangan. Saat perayaan Hari Raya Waisak 2025, suasana TWI tampak lengang dan jauh dari semarak. Fasilitas publik seperti gazebo terlihat rusak parah, bahkan sebagian telah runtuh dan tak lagi dapat digunakan secara aman.
Abdul Hamid, seorang pengunjung asal Batu Bara yang datang bersama keluarganya, menyatakan kekagumannya terhadap konsep TWI namun kecewa terhadap kondisinya.
“Kami sudah menjelajahi dari replika Ka’bah hingga Taman Firdaus, konsepnya luar biasa. Tapi sangat disayangkan, semua fasilitas tampak tidak terawat. Jauh berbeda dengan yang kami lihat di internet,” ujarnya.
Bukan hanya wisatawan umum, kelompok Sekolah Minggu dari HKBP Lae Pangaroan serta gabungan TPA juga mengadakan ibadah di lokasi tersebut. Mereka terpaksa menggunakan gazebo yang hampir roboh. Sintua Esrida Br. Padede yang turut mendampingi anak-anak mengaku prihatin dengan keadaan taman rohani yang dulunya begitu membanggakan.
Data dari petugas tiket, Johor Lingga dan Syamsu Hutabarat, mencatat bahwa hingga pukul 12.00 WIB jumlah pengunjung hanya mencapai 37 orang dewasa dan 42 anak-anak. Jumlah kendaraan pun sangat minim—hanya enam unit sepeda motor dan lima mobil. Bahkan diduga sebagian pengunjung masuk melalui portal belakang untuk menghindari tiket masuk.
Seorang pengunjung lain yang enggan disebutkan namanya berharap agar Pemerintah Kabupaten Dairi, khususnya Bupati Vickner Sinaga dan Wakil Bupati Wahyu Sagala, dapat segera melakukan langkah-langkah nyata untuk melakukan revitalisasi terhadap TWI sebagai aset strategis daerah.
“Jika dibiarkan, kerusakan akan semakin meluas. Biaya perbaikan ke depan tentu akan jauh lebih besar. Pemerintah, terutama Dinas Pariwisata, harus menunjukkan kepedulian agar TWI kembali menjadi kebanggaan masyarakat,” ungkapnya.
TWI bukan hanya tempat wisata, tetapi simbol keharmonisan spiritual, toleransi umat beragama, serta identitas budaya Dairi. Ketika taman ini dibiarkan rusak tanpa penanganan serius, yang hilang bukan hanya fisiknya, melainkan juga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan.
“Warisan rohani adalah cermin peradaban. Menjaganya berarti menghormati masa lalu dan membangun masa depan”.
Ironisnya, kini masyarakat Dairi sendiri lebih memilih berwisata ke destinasi lain seperti Pariban, ketimbang menikmati potensi lokal yang pernah menjadi ikon spiritual Sumatera Utara. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka TWI akan benar-benar kehilangan roh dan relevansinya dalam peta wisata nasional.
(Laporan: Clara S)

