Tiket Pesawat Medan–Simeulue Tembus Rp1,8 Juta, Pariwisata Tertekan: Pemerintah Daerah Diminta Bertindak

Ibnnews.co.id, SIMEULUE – Harga tiket pesawat rute Medan–Simeulue dan Simeulue–Medan yang kini mencapai Rp1.800.000 sekali jalan dinilai tidak wajar dan berdampak serius terhadap sektor pariwisata Simeulue. Kondisi ini disebut telah menekan kunjungan wisatawan dan melemahkan perekonomian masyarakat. Minggu (1/2/2026)
Pemerhati pariwisata Simeulue, Adi Mukti, menilai lonjakan harga tiket tersebut memicu penurunan signifikan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Pada tahun 2018, harga tiket rute Medan–Simeulue masih berada di kisaran Rp400.000 hingga Rp700.000. Artinya, akses ke Simeulue sebelumnya terbuka dan terjangkau. Namun saat ini, justru semakin tertutup akibat harga tiket yang melonjak tajam tanpa solusi yang jelas,” ujar Adi Mukti.
Ia menjelaskan, Simeulue yang dikenal sebagai destinasi surfing kelas dunia kini kehilangan daya tarik karena mahalnya biaya transportasi udara. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya biaya bagasi, khususnya bagi wisatawan selancar.
“Wisatawan mancanegara yang membawa papan selancar dikenakan biaya bagasi hingga Rp3 juta untuk satu tas. Biaya ini bahkan lebih mahal dari harga tiket pesawat. Jika satu tas berisi dua hingga tiga papan selancar, total biaya menjadi tidak rasional dan tidak ramah wisatawan,” jelasnya.
Adi memaparkan, dengan harga tiket Rp1.800.000 ditambah biaya bagasi sekitar Rp3.000.000, seorang wisatawan harus mengeluarkan biaya hingga Rp4.800.000 sekali jalan dari Bandara Kualanamu menuju Bandara Lasikin, Simeulue.
Akibatnya, lanjut Adi, kunjungan wisatawan ke Simeulue terus menurun. Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku usaha pariwisata.
“Penginapan sepi, surf camp kehilangan tamu, UMKM terpukul, pendapatan asli daerah (PAD) menurun, dan roda ekonomi masyarakat lokal ikut melambat. Pariwisata yang selama ini menjadi harapan ekonomi masyarakat Simeulue kini terancam mati perlahan,” katanya.
Dalam situasi tersebut, Adi Mukti menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Dinas Pariwisata tidak boleh bersikap pasif.
“Pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadi penonton. Sudah saatnya turun tangan secara serius dan terbuka, bukan sekadar wacana. Dibutuhkan langkah cepat dan nyata, termasuk negosiasi langsung dengan maskapai serta koordinasi dengan pemerintah pusat untuk menekan harga tiket pesawat,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi kebijakan, Simeulue berisiko kehilangan daya saing sebagai destinasi wisata internasional dan kepercayaan wisatawan akan semakin menurun.
“Masyarakat Simeulue tidak membutuhkan janji. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata sekarang,” pungkasnya.(AM)

