Rakit Tradisional Simeulue Barat, Gerbang Utama Menuju Ibu Kota Kecamatan dan Kabupaten

Share

Ibnnews.co.id, SIMEULUE BARAT – Bagi masyarakat yang bermukim di enam desa seberang Kecamatan Simeulue Barat—Desa Amabaan, Miteum, Lukbikhao, Sanggiran, Ujung Harapan, dan Lukmakmur—sebilah rakit kayu bukan lagi sekadar alat transportasi alternatif. Rakit ini adalah jantung kehidupan, satu-satunya infrastruktur penghubung yang paling diandalkan untuk menjangkau pusat pemerintahan, baik ke ibu kota kecamatan maupun langsung menuju ibu kota kabupaten.

Setiap harinya, rakit ini menjadi saksi bisu perjuangan warga. Mulai dari para pegawai yang hendak berdinas ke kantor kecamatan, pedagang yang membawa barang belanjaan, hingga warga yang harus mengurus administrasi atau berobat ke pusat kabupaten. Semua menggantungkan mobilitas mereka pada transportasi air yang sangat bersahaja ini.

Jalur Darat yang Mengancam Keselamatan
Sebenarnya, warga memiliki pilihan untuk menggunakan jalur darat memutar. Namun, realitas di lapangan memaksa mereka untuk mengurungkan niat tersebut. Akses jalan darat yang tersedia kondisinya sangat memprihatinkan,hamparan batu-batu lepas yang tajam dan belum tersentuh aspal menjadi ancaman nyata yang siap mencelakai siapa saja yang nekat berkendara di sana.

Akibat risiko kecelakaan yang tinggi di jalur darat, menyeberang dengan rakit meski harus melawan arus air dan bertaruh keselamatan menjadi pilihan paling rasional dan cepat demi bisa sampai ke ibu kota kecamatan dan kabupaten.

“Kami terpaksa naik rakit setiap hari karena kalau lewat jalan darat, jalannya masih batu lepas dan sangat berbahaya untuk motor. Rakit inilah jalan tercepat dan paling sering kami gunakan, baik untuk ke kantor camat maupun kalau ada urusan penting ke ibu kota kabupaten,” ungkap salah seorang warga di lokasi penyeberangan.

Jeritan Hati yang Menanti Solusi Nyata
Kondisi serba terbatas ini bukanlah hal baru. Keluhan demi keluhan telah disuarakan oleh warga dari tahun ke tahun. Mereka terus menanti dan berharap agar ada solusi konkret dari pemerintah daerah, seperti memberikan Bantuan Rakit yang lebih Layak yang dan pengaspalan jalan.

Warga di enam desa ini mendambakan kemerdekaan aksesibilitas agar roda perekonomian, pendidikan, dan pelayanan publik tidak lagi terhambat oleh bentangan air dan rusaknya infrastruktur jalan. Sampai mimpi itu terwujud, mereka terpaksa harus terus bersabar, mengayuh asa di atas rakit yang bergoyang dihempas arus.(AM)

Redaksi IBN News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *